Cerita Berhasil CEO Wardah, dari Usaha Rumahan Jadi Perusahaan Multinasional

Cerita Berhasil CEO Wardah, dari Usaha Rumahan Jadi Perusahaan Multinasional. Siapa yang saat ini tidak tahu merk Wardah. Walau sebenarnya dahulu 33 th. waktu baru berdiri, product kosmetik ini dijajakan dari tempat tinggal ke tempat tinggal.

Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation, Dra. Nurhayati Subakat, Apt. serta Chief Marketing Officer PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat sharing narasi pada Wolipop bagaimana Wardah dapat berkembang sampai saat ini jadi perusahaan multinasional.

Bahkan juga pada 2018 ini Wardah mencatat jadi perusahaan kosmetik nomor satu di bagian penjualan moisturizer atau pelembab. Wardah sukses menaklukkan merk kosmetik yang lain yang banyak ada di Indonesia.

” Th. ini dapat menang untuk penjualan mosturizer dengan perusahaan multinasional yang lain. Alhamdulillah karena keyakinan orang-orang seri moisturizer Wardah jadi nomor satu (penjualannya), ” tutur Nurhayati waktu terlibat perbincangan dengan Wolipop baru saja ini di kantornya, PT Paragon Technology and Innovation, di Jl. Swadharma Raya No. 60, Kampung Baru III, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Keberhasilan Wardah sudah pasti tidak cuma dari penjualan mereka yang product pelembabnya dapat menempati nomor satu. Demikian banyak perolehan Wardah yang terlebih dulu dibuat dari usaha rumahan. Tersebut wawancara Wolipop dengan Nurhayati Subakat serta Salman Subakat :

Nurhayati Subakat : Pertama sesungguhnya saya buat merk Putri, itu product salon. Baru Wardah, lalu Makeover serta paling akhir Emina. Saya terlebih dulu sempat bekerja di Wella Cosmetic dari th. 1979 hingga 1985. Sesudah di Wella lima th., CEO baru memohon saya bekerja full time. Terlebih dulu saatnya lebih fleksibel. Anak-anak masih tetap kecil, anak saya hingga tiga saat bekerja disana, kebayang repotnya karna saya tinggal di daerah dekat-dekat sini (Ulujami, Jakarta Selatan), sesaat bekerja di Bogor. Pada akhirnya saya pilih mundur.

Dengan latar belakang saya lulusan paling baik farmasi ITB (Institut Tehnologi Bandung) serta di Wella lima th., pada 1985 saya buat Putri, taraf home industry. Meskipun home industry, produknya berkwalitas tapi harga berkompetisi. Modal uang waktu itu tidak besar. Tapi saya miliki tempat tinggal serta mobil jadi aset. Mobil untuk jualan serta tempat tinggal untuk produksi.

Awalannya saya jual Putri di salon-salon pinggir daerah Tangerang. Putri berkembang selalu. Lantas ada kenalan, mengapa tidak buat product Islami. Pada 1995 saya buat Wardah. Nama itu karna dasarnya menginginkan Islami, jadi kiblatnya ke Arab. Waktu itu ada tiga nama yang didaftarkan ke kantor merk, saya lupa saja saja. Yang saya ingat yang di terima Wardah. Wardah itu berarti bunga mawar.

Nurhayati Subakat : Wardah dahulu sulit jualnya tidak segera berhasil. Kita jual lewat beragam langkah direct selling, lewat MLM (Multi Level Marketing). Lalu generasi ke-2 masuk Salman serta pada 2003 MLM turun. Kita perbaiki system Wardah. Pada 2004 telah mulai diperbaiki brandingnya. Pada 2009 kita re-branding besar-besaran. Kemudian penjualan naik selalu. Jadi 2012 sempat hingga 100%.

Saat ini Paragon juga miliki lebih dari 7. 500 karyawan paling baik di bagiannya di semua Indonesia. Tiap-tiap th., kemampuan produksi kami lebih dari 95 juta product personal care serta make-up.

Untuk pabrik kami miliki 15 hektar serta barusan lebih sekali lagi empat hektar di Jatake, Tangerang.

Nurhayati Subakat : Sesungguhnya culturenya telah terjadi mulai sejak awal. Diteruskan oleh generasi ke-2 ke-3 diteruskan. Waktu karyawan telah lebih banyak kita buat agent of changes supaya culture ini tetaplah terbangun. Culture kami : ketuhanan, keteladanan, kekeluargaan, tanggungjawab, konsentrasi pada pelanggan, serta inovasi.

Salman Subakat : Yang paling perlu keteladanan. Dan customer focus. Dengan customer yang makin permintaaning, kita mesti menjaga apa yang telah kita kuat serta melakukan perbaikan apa yang butuh kita tingkatkan sekali lagi.

Nurhayati Subakat : Dalam keteladanan, saya jadi CEO serta BOD beda senantiasa bekerja dengan disiplin, usaha keras, memprioritaskan kejujuran. Serta bagaimana kami dapat memberi keteladanan itu ke bawah.

Nurhayati Subakat : Memanglah beberapa orang ajukan pertanyaan bagaimana Wardah dapat melejit. Saya senantiasa katakan terkecuali karna formula 4P (Product, Pricing, Positioning, Promotion) ada juga 1P yakni pertolongan dari Allah SWT. Karna pada 2009 kita lakukan re-branding Wardah, pada th. itu juga hijabers booming. Momennya cocok, kita juga melejit.

Saat ini juga kita berkompetisi dengan perusahaan multinasional beda. Tapi kita th. ini dapat menang satu kelompok dengan multinasional beda yakni kelompok pelembab muka. Itu karna beberapa orang dengan ikhlas mempromosikan Wardah di seminar – seminar, pengajian – pengajian. Dengan spontan mereka mengatakan nama Wardah.

Nurhayati Subakat : Obsesi dalam kehidupan saya menginginkan Wardah jadi global brand. Masuk jadi 10 besar brand kosmetik didunia. Saat ini semuanya langkah yang kami kerjakan menuju kesana.

Salman Subakat : Paragon itu juga senantiasa concern dalam soal pendidikan. Ibu umpamanya dengan beragam beasiswa yang didapatkan ke universitas serta organisasi. Saya lewat program bantu guru belajar sekali lagi. Mengapa pendidikan karna problem pendidikan di Indonesia itu luas.

Kami juga mendorong wanita jadi pengusaha. Semangat entrepreneurship didorong banget disini dengan belajar make up lalu jadi make up artist. We actualy the biggest make up school di Indonesia.

Salman Subakat : Dahulu industri kosmetik tidak besar, baru dua pemain lokal. Di global juga bukanlah industri yang sebesar makanan. Ingin tidak mau kita ciptain sendiri brand image kita. Kita tentukan fashion karna fashion serta make up tidak dapat dipisah-pisahkan. Kita lihat beberapa orang fashion jadi sumber kreatifitas. Serta saat orang gonta-ganti pakaian, makeupnya juga ubah. Pada akhirnya keterusan hingga saat ini, jadi passion kita, terlebih untuk baju modest. Impactnya memanglah tidak segera, untuk brand image.

Pemerintah juga memohon kita untuk bantu industri fashion. Saat ini orang katakan pembagian kita di fashion telah terlalu berlebih. Tapi kita memanglah menginginkan menolong. Jadi suatu hal yang membanggakan saat hijab booming, ikonnya orang Indonesia. Kita menginginkan melindungi mereka tetaplah disana. Dian Pelangi umpamanya di kenal didunia internasional jadi ikon dari Indonesia.

Nurhayati Subakat : Tips-nya usaha keras, tidak mudah menyerah serta sabar. Saat ini beberapa orang tidak sabar, pengin cepet-cepet gede.

Salman Subakat : Start small, think big, move fast.

dikutip : wolipopdetik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!